Tentang Islam dan Demokrasi

Sebuah fatamorgana. Demokrasi selalu disanjung, dijunjung dengan dalih menentramkan rakyat. Dulu hingga sekarang mengenai idiom Nasionalis, Pragmatis, Demokratis, Sosialis, Libralis, Struktualis, Komunis, Agamis, Spiritualis, hingga sampai Kiai’s (sebutan KIAI di pesantren), dijadikan do’a-doa bagi mereka. Dari para Mahasiswa yang mengaku aktivis, tapi mereka tidak tahu apa, bagaimana, seperti apa aktivis. Mahasiswa sebagai gerakan Poros tengah (Agent of middly changes), berdengung-dengung memberhalakan Idiom-idiom itu. Ia kumandangkan di sembarang tempat. Bagai Do’a yang tidak terkabulkan.
Ia akan selalu begitu dan begitu.

Disini mari kita menyelami Persuntingan, Perkawinan, atau boleh kita sebut sebagai persamaan. Adakah persamaan antara islam dan demokrasi. Kita tahu, Islam sangat Dogmatris. Kalau kamu begini, maka kamu akan jadi ini-itu. Silahkan dibaca hingga tuntas.

Bagaimana konsep gerak sejarah social dalam islam? Adakah bergerak linier, memutar, zig-zag, melompat-lompat,ataukah spiral? Tentu tidk mudah memberikan jawaban dari pertanyaan ini. Namun begitu, megingat kuatnya memory of the past dengan simbol-simbolnya yang disakralkan, dinamika ummat islam ditandai dengan permanent or cyclical reformation. Terdapat semacam gerak gerbong sejarah yang penuh dengan muatan doktrin, ekkayaan koleksi peradapan masa lalu, pranata hokum dan bentuk ritual yang permanent, serta jumlah ummatnya yang selalu bertambah, dan diatas semua itu, al Qur’an tidak pernah surut wibawanya dalam menjaga komunitas ummat islam.
Dengan demikian, sesungguhnya komunitas muslim memiliki ba ngunan epistemology, teologi, pranata hokum serta sejarahnya sendiri sehingga sangat masuk akal kalau Hungtington kemudian menghadapkan Barat dengan Islam karena msing-masing memiliki struktur social dan “collective memory” yang berbeda yang menyangga eksistensi sebuah masyarakat. Ini terbukti meskipun istilah dan gerakan “globalisasi dan globalisme” kian menguat, namun ummat islam dalam banyak hal melakukan kritik dan perlawanan, kecauali dlam aspek sains dan teknologi modern. Sedangkan dalam pandangan dunianya (worldview), umat islam tetap merupakan sebuah entitas tersendiri. Fenomena ini sesungguhnya pernah terjadi ketika dunia Islam melakukan kontak dengan peradaban yunani kuno. Berbagai peradaban unggul yunani, terutama filsafatnya, diakomodasi dan bahkan dikembangkan dalam islam, namun banyak warisan Yunani lain yang dibuang, mislanay pikiran-pikiran mitologinya.

Kembali pada kritik Roy seputar lemahnya institusi yang rasional dan independent dalam islam, hal ini juga telah mengakibatkan kegagalan dunia islam untuk menjadi pioner dalam pengembangan iptek modern, padahal asset dan prestasi yang diraihnya sangat luar biasa dan tak tertandingi pada zamannya. Toby E. Huff, seorang sejarahwan bidang sains, mengajukan pertanyaa yang brcampur kekaguman, “…………..the Arab achievement is so impressive thet we must ask why the Arabs (Muslim-KH), did not go “the last mile” to the modern scientific revolution”? salah satu penyebabnya, kata Huff, adlah dunia islam tidak menghasilkan sebuah institusi social (dan lembaga keilmuan) yang benar-benar independent, yang taat pada rasionalitas ilmu dengan sifatnya yang terbuka dn obyektif. Sementara dalam masyarakat islam peranan individu, ulama’ dan umara’ yang demikian kuat baik karena penguasannya dalam bidang ilmu agama maupun karena kedekatannya dengan para penguasa atau sultan. Situasi inilah barangkali yang oelh Roy disebutkan bahwa islamic thought rst on an anitial premise thet destroys its own innovative elements.

Penilaian yang mirip juga dikemukakan oleh Arkoun, meski dengan kalimat berbeda, yaitu,; ”masyarakat-masyarakat kontemporer terombang-ambing diantara pengacuan kepada tradisi yang berusia berabad-abad, yag ditandai oleh gejala wahyu, dan penerimaan strategi Marxis demi memenangkan dan menerapkan kekuasaan”.

Konflik ini dicoba dipecahkan dengan konsep Umatisme, namun dalam rentangan sejarahnya selalu saja muncul konflik permanen antara mereka yang mengacu pada kewenangan keagamaan di satu pihak dan kekuasaan serta kewenangan yang berasal dari suku, dinasti, nasionalisme pada pihak yang lain. Dalam hal ini Arkoun menawarkan sebuah pendekatan baru yang disebut sebagai Islamologi Terapan. salah satu cirinya ialah sebuah pendekatan kritis terhadap Islam dengan melibatkan data serta analisa kajian-kajian Historis-Empiris sehingga muncul keseimbangan yang produktif antara wewenang wahyu dan otonomi manusia sebagai makhluk historis.

Dibanding Agama lain, barang kali islam memiliki akar tradisi yang pailing kuat dan terus berkembang. Didalam  jantung tradisi itu terdapat AlQur’an yang memiliki daya gerak keluar (sentrifugal), memasuki dan berdialog dengan berbagai budaya yang dijumpainya. Selaiknya, umat islam yang tinggal dan tumbuh dalam berbagai asuhan budaya baru berusaha mencari rujukan pada AlQur’an dan tradisi lama. Arus gerak sentrifugal sentripetal ini terus berlangsung hingga perjalanan sejarah tradisi islam selalu diwarnai oleh usaha pembaruan dan penyegaran secara terus menerus tak pernah henti yang kadang-kadang melahirkan ketegangan antara dua model beragama yang oleh sebagian antropolog dibedakanmenjadi dua. yaitu; “great Tradition” dan “Little tradition” atau “High Islam” dan “Low Islam”.

Kategori pertama adalah mereka yang dari segi jumlah tergolong kecil, namun  memiliki pengetahuan agama yang mendalam dan dari mereka inilah muncul Ijtihad-ijtihad baru dalam rengka meresponi tantangan zaman. Sedangkan kelompok kedua adalah mayoritas umat yang menjalankan agama secara populer, bahkan hubungan antara norma agama dan budaya lokal kurang menjadi perhatian serius. Dalam hal ini simbol-simbol agama tetap dipertahankan, meskipun kadangkala esensinya sudah mengalami deviasi makna. meskipun tiap zaman muncul pemikir-pemikir muslim yang mencoba melakukan penyegaran paham keislaman, namun fenomena keberagamaan umat islam sejauh ini masih memperkuat adanya anggapan bahwa konsep masyarakat madani (civil society) yang dipahami dalam konteks negara modern masih jauh dari kenyataan.

salah satu ciri masyarakat madani adalah adanya ruang publik dimana semua

orang mampu tumbuh dan mengaktualisasikan diri secara suka rela,

dan setiap warga maupun pemerintahnya terikat dan harus tunduk pada hukum yang

dihasilkan oleh sebuah “kontrak sosial”. sejauh ini, wacana politik yang berlangsung di dunia islam mesih menempatkan figur, baik ulama’ maupun umaro’, pada posisi yang amat kuat. Sejak dari Saudi Arabia, Irak, Yordania, Maroko dan Iran semua belum menghargai konsep General will sebagai institusi tertinggi. Dalam konteks Iran yang bermazhab Syi’ah perlu dberi catatan khusus. Mereka kelihatannya justru lebih konsisten, yaitu sebuah pemerintahan teokratik Islam, namun secara sadar justru ingin menghidupkan demokrasi di dalam Islam itu sendiri yang bukan hasil tiruan Barat.*****************

2 Tanggapan

  1. Mas sunny, commentnya sudah saya jawab pada article terbaru saya. . (adsense )

    http://freebali.wordpress.com

    numpang lewat :
    http://www.iklangede.com

  2. nice post
    keep update mas


    oke.. I’ll update thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: