Pandangan Dunia Jawa

jowoPANDANGAN DUNIA JAWA

Dengan “pandangan dunia” saya maksud di sini keseluruhan semua keyakinan deskripsi tentang realitas sejauh merupakan suatu kesatuan daripadanya manusia memberi suatu struktur yang bermakna kepada alam pengalamannya. suatu pandangan dunia merupakan kerangka acuan bagi manusia untuk dapat mengerti masing-masing unsur pengalamannya. yang khas bagi pandangan dunia jawa ialah bahwa realitas tidak dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu sama lain, malainkan bahwa realitas dilihat sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh. bidang-bidang realitas yang dalam alam pikiran barat dibedakan dengan tajam, yaitu ; dunia, masyarakat, dan alam adikodrati bagi orang jawa bukanlah tiga bidang yang relatif berdiri sendiri dan masing-masing mempunyai hukumnya sendiri, melainkan merupakan suatu kesatuan pengalaman.


Pada hakekatnya orang jawa tidak membedakan antara sikap-sikap religius dan bukan religius, dan interaksi-interaksi sosial sekaligus merupakan sikap terhadap alam, sebagai mana juga sikap terhadap alam sekaligus mempunyai relevansi sosial. Antara pekerjaan, interaksi dan do’a tidak ada perbedaan prinsip hakiki.

Tambahan pula pandangan dunia jawa bukan suatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya untuk berhasil dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. pada orang jawa, berbeda sekali dengan orang Eropa zaman sekarang. teori dan praktis tidak bisa dipisahkan satu sama yang lain. Tolok ukur arti pandangan dunia bagi orang jawa adalah nilai pragmatisnya untuk mencapai suatu keadaan psikis tertentu, yaitu; ketenangan,ketentraman, dan keseimbangan batin. maka pandangan dunia dan kelakuan dalam dunia tidak dapat dipisahkan seluruhnya. Keyakinan-keyakinan deskriptif orang jawa, terasa benar sejauh membantu dia untuk mencapai keadaan batin itu tadi. bagi orang jawa, suatu pandangan dunia dapat diterima semakin semua unsur-unsurnya mewujudkan suatu kesatuan pengalaman yang harmonis. semakin unsur-unsur itu cocok satu sama lain (sreg), dan kecocokan itu merupakan suatu kategori psikologis yang menyatakan diri dalam tidak adanya ketegangan dan gangguan batin. sebagai mana dikatakan oleh Robert Jay: “orang lebih banyak mempunyai perhatian terhadap dunia sana demi dunia sini daripada sebaliknya.” (Jay;1963). Oleh karena itu, Ontologi, Psikologi, dan Etika tidak bisa dipisahkan secara tajam.

Maka jika kita bicara tentang pandagan dunia Jawa seharusnya kita tidak hanya bicara tentang agama (dalam arti sempit barat) dan mitos, melainkan juga tentang menanam padi dan perayaan panenan. tentang kehidupan keluarga dan seni tari-tarian, tentag mistik dan susunan desa. berukut ini saya terpaksa mempatasi diri pada beberapa unsur saja yang saya anggap paling penting.

Akhirnya perlu diperhatikan bahwa, “pandangan dunia Jawa”, bukanlah suatu pandangan dunia dengan ciri-ciri dan batas-batas yang pasti melainkan suatu penghayatan yang terungkap dalam pelbagai lapisan masyarakat dalam wujud-wujud dan dengan nada yang berbeda-beda. jadi kita sebenarnya juga bisa bicara tentang pandangan-pandangan dunia Jawa. Namun pertama, ciri umum pandangan dunia Jawa yang tadi saya berikan berlaku bagi semua wujud itu. Dan kedua, semua unsur itu berada dalam suatu kesinambungan yang koheren, dengan batas-batas di antaranya yang tidak jelas. Jadi ungkapan-ungkapan yang berbeda itu tidak saling mengecualikan. berbeda dengan Clifford Geertz yang secara provokatif menyebut pandangan dunia Jawa sebagai agama Jawa (yang kemudian diterangkan sebagai agama abangan, agama santri,dan agama priyayi, menurut lapisan-lapisan dalam masyarakat), disini akan membedakan empat titik berat atau lingkaran bermakna dalam “Pandangan Dunia Jawa”.

Lingkaran pertama, lebih bersifat ekstrovert :intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan Numinus antara alam masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang dilaksanakan dalam ritus, tanpa refleksi eksplisit terhadap dimensi batin sendiri; wujud ini lebih kuat di desa dan dalam lapisan masyarakat yang tidak bersastra. Clifford Geertz telah menggambarkannya sebagai “agama abangan”.

Lingkaran kedua, memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam Numinus (diambil dari fenomelogi agama, yang menunjuk pada pengalaman khas religius atau dapat diterjemahkan juga dengan “Yang Ilahi”), suatu segi yang oleh Clifford Geertz agak dikesampingkan, barangkali karena segi ini dalam lingkungan yang diselidikinya di Jawa Timur sudah tidak memainkan peranan lagi. Namun pandangan itu rasanya tetap cukup berpengaruh sebagaimana terutama diperlihatkan oleh Anderson.

Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang ke-akuan sebagai jalan ke persatuan dengan yang Numinus. Di sini unsur-unsur dari lingkungan pertama “diterjemahkan” ke dalam dimensi pengalaman kebatinan sendiri dan sebaliknya alam lahir distrukturasikan dengan bertolak dari dimensi batin.Lingkungan itu, oleh Clifford Geertz digambarkan sebagai Agama Priyayi. Puncak wujud ini adalah usaha untuk mencapai pengalaman mistik.

Lingkaran ke-empat, adalah penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi, oleh takdir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: