Artikel “Homo Sovieticus”

lagi-di-ruang-redaksi“HOMO SOVIETICUS”

Oleh : sunny

Jalaluddin Rahmat, dalam bukunya yang berjudul “Rekayasa sosial” menerangkan adanya jenis kepribadian, yang kehadirannya tidak hanya mengganggu, tetapi bahkan menghambat perubahan sosial. Jenis kepribadian ini ditemukan melalui berbagai penelitian di berbagai Negara-negara yang puluhan tahun di kuasai oleh kaum turan atau dictator melalui pemerintahannya yang totalitarian. Dan pada gilirannya, oleh gerakan distruktif, pemerintahan tersebut melakukan reformasi,. Sekadar sebagai bukti, ambilah Negara Soviet seabagai bahan kajian.

Uni Soviet sebagaimana yang kita ketahui bersama, dalam sejarahnya pernah di kuasai oleh rezim yang dictator dan mengalami pemerintahan totaliter dalam kurun waktu yang lama, dan pada akhirnya mengalami perubahan melalui reformasi glasnost dan perestroica. Melalui reformasi itulah, Uni Soviet kemudian hancur dan menjadi Negara-negara baru. Keniscayaan dari runruhnya imperium itu ialah hilangnya sistem yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Akan tetapi, meskipun telah hancur, sistem tersebut masih menggendong dan jugruk di dalam pikiran orang-orang Soviet. Dalammetafora Jalaluddin Rahmat hal tersebut diungkapkan sebagai “The berlin walls may be down, but the ‘wall in our heads’ remaind. “

Adalah Milos 2, orang yang pertama kali melakukan studi tentang itu. Ia melakukan penelitian untuk kali pertama pada tahun 1953, dan pada tahhun 1991 ia melakukan perluasan penelitiannya pada Negara-negara di dunia ketiga. Hasil penelitia yang dilakukannya di Uni Soviet dan Negara-negara lain yang senasib (dalam hgal ini sama-sama peranah dikuasai rezim dictator dalam kurun waktu yang lama) menunjukan bahwa masyarakatnya memiliki suatu kepribadian yang khas. Sebuah kepribadian yang tidak dimiliki neara-negara lain. Milos menyebut kepribadian unik tersebut sebagai kepribadian Homo Sovieticus. Selain istilah itu, ada juga yang memberikan istilah lain yang lebih ekstrim dan tidak enak untuk didengar, misalnya sosialis) dan sosialis spirit.

Ciri utama para pengidap Homo sovieticus ialah adanya kepribadian yang pecah. Semacam schizophrenia. Schizo artinya pecah, sementara phrenia atau phreno artinya otak. Dari pengertian masing-masing tersebut tampak jelas bahwa schizophrenia adalah suatu keadaan di mana pengidapnya mengalami perpecahan otak, dimana tidak ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Seseorang seolah-olah mempunyai dua kepribadian yang berjalan sendiri-sendiri, tidak saling berkorelasi. Jadi, seorang pengidap homo sovieticus kepribadiannya pecah menjadi dua, yaitu kepribadian private dan kepribadian public (rahmat 2005). Mereka mempunyai dua wajah sekaligus, yaitu wajah di hadapan orang banyak dan wajah di antara keluarga terdekat atau hubungan interpersonal, di mana keduanya tidak sama, berlainan atau bahkan justru saling berkebalikan.

Para pengidap kepribadian ini umumnya sangat egoistis, di satu sisi ia selalu melindungi dan memelihara segala sesuatu yang berhubungan dengannya, di sisi yang lain, dalam sikapnya yang berseberangan, ia tidak mau menghargai milik atau kepentingan umum dan Negara. Baginya melindungi milik pribadi hukumnya wajib., sebagaiman ia menilai bahwa merusak milik umum hukumnya juga wajib. Contoh paling empiris terkait dengan hal tersebut terjadi di polandia. Di Negara itu, mencuri
milik Negara tidak dilarang , sebaliknya justru dianjurkan tanpa adanya beban moral. Namun sebaliknya, jika mencuri barang-barang pribadi, hukumnya sangat berat. Sehingga wajar kalau masyarakat polandia mempropagandakan semboyannya; stealing space parts, material, or equipment from state –new enter- prises is widely condemned and evokes no moral censure, while the theft of private goods is trongly condemnet.

Selain egois ciri lain para pengidap kepribadian ini ialah kerap berbohong dan tidak mempunyai komitmen dengan apa yang ia janjikan atau bicarakan serta pura-pura. Memang, para pengidap homo sovieticus mempunyai kecenderungan yang besar untuk melalaikan tentang apa yang ia bicarakan. Pernyataan-pernyatannya tidak menimbulkan kewajiban untuk diiempiriskan. Dalam istilah populernya tabiat itu disebut sebagai dissossation of what people say and what they actually do (apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dilakukan) dan phoney action (tindakan rekayasa). Dalam terma pramoedya Ananta toer; X tidak sama dengan X. atau dalam islam disebut sebagai munafik! ()………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: