Jangan Sok Suci

Jangan Sok Suci

Dalam tulisan ini saya awali mengenai ibadah. Yang mana tulisan ini terilhami dari salah satu tulisannya cak nur (Nurcholish Madjid). Beliau menerangkan tentang janganlah sok suci.

Apakah maksudnya itu..? ada yang tahu….

Begini, dalam beribadah kita mestinya sedikit bergaya tasawuf, misalnya untuk tujuan berendah diri di hadapan Alloh, kita benar- benar “Telanjang” dihadapanNya, yaitu meninggalkan atribut keduniaan.

Tapi kawan bukan telanjang yang menjadi kebiasaan kawan-kawan di kamar mandi, he……..artinya, dalam beribadah jangan telanjang secara fisik. Pahammm..

Dalam ibadah Haji dan Umroh hal itu dilambangkan dengan pakaian ihram. Itu sebenarnya kelanjutan dari rutus di zaman jahiliyah, karena di zaman jahiliyah pun sudah ada Haji dan Thawaf, tetapi diselewengkan sedemikian rupa sehingga mereka menjadi musyrik. Semua itu asal usulnya adalah dari Nabi Ibrahim. Mungkin karena perkembangan-perkembangnnya, maka di zaman jahiliyah orang-orang yang Thawaf itu telanjang (ury^anan), padahal maksudnya menghadapa tuhan itu tanpa tendensi, semua dilepas, karena itu kemudian dilambangkan dengan pakaian putih-putih yang tidak boleh dijahit.

Mengapa demikian………..?

Karena pakaian itu topeng. Tinggi rendah manusia itu antara lain ditentukan oleh pakaian. Bahannya boleh sama, warnanya sama, taoi jahitannya berbeda, itu sudah dianggap beda. Jahitanya sama, warnanya sama, tapi banhannya berbeda, itupun dianggap beda juga. Itu atribut yang lajiri pada kita. Diluar itu, bnyak sekali topeng yang tidak lahiri, seperti gelar akademis. Banyak orang sekarang ini yng kalau memperkenalkan diri, titelnya panjang sekali, dan disebutkan semua.. di tempat saya ada yang uring-uring en , gara-gara kebanyakan nama alias gelar/titel. Wah……..berarti semua orang yang lagi kuliah, sedang cari topeng dooong…… jadi, di kampus itu para pasukan topeng, markas para pe-topeng mania, he,……..

Lalu, apakah Alooh tidak suka ama topeng-topeng itu, meskipun misalnya itu sebuah prestasi, seperti gelar akademis…? Begini, bukannya Alooh gak suka, tapi buat Alloh itu semua tak ada gunanya. Di depan Alloh tidak boleh ada topeng , tapi itu hanya di depan Alloh saja. Kita seperti itu dan kita tidak boleh telanjang di depan manusia.

Lalu apakah di depan manusia topeng-topeng tidak boleh dipakai………?

Begini kawan, ada sebuah cerita. Ada seorang kiai mursyid (guru) tarekat. Kebetulan ada tamu, saat pelayan menyugukan the, kemudian sang kiai mempersilahkan tamu tadi utuk minum, ada beberapa orang yang tidak minum. Kiai itu bertanya, “kenapa tidak di minum..? mereka menjawab kami sedang puasa. Pak kiai mesem-mesem (senyum). Mestinya mereka minum. Di depan kiai jangan pamer puasa. Artinya jangan pamer kesalehan.

Ada sebuah hadits Nabi yang melukiskan bahawa nanti di akhirat itu ketika semua orang sudah selesai dihisab, ada yang masuk surga dan neraka, lalu tuhan memerintahkan malaikat untuk lihat-lihat ke neraka, jangan-jangan salah memasukan orang yang semestinya tidak masuk neraka.

Ilustrasi ceritanya begini : malaikat pergike neraka. Sehingga semua orang tahu dan bertanya-tanya untuk apa malaikat ke neraka. Lalu mereka bertanya mengapa malaikat ke neraka, melaikat menjawab , kalau-kalau ada yang salah masuk neraka. Kemudian mereka mengacungkan tangan semua.

Malaikat bertanya kepada salah seorang diantaranya, kemudian mereka menjawab “lo begini, saya ini dulu pernah sedekah, pernah haji, pernah umrah, bahkan haji saya sudah lima kali”. Lalu malaikat melihat catatannya, ooohhhhh…….ya betul, tetapi menurut catatan saya kamu sedekah, haji bahkan sampai lima kali, Cuma untuk pamer dan tidak dicela orang.

Macam-macam alasan mereka bujuk’i malaikat agar mereka dikeluarkan dari situ. Dari mereka ada yang merasa saleh, dermawan, ktifis, sebagai reformis, dan sebagainya.

Tapi di pojok sana ada seorang yang tidak mau anggat tangan, kemudian malaikat mendekatinya, dia berkata “saya gak mengangkat tangan kok….” Katanya. Saya tahu kenapa saya di neraka, karena saya merasa pantas di neraka. Sebab tidak kebaikan dalam diri saya.

Lalu malaikat menanyakan namanya lelu melihat catatan. Wah, ini kebaikanmu, dalam catatan saya kamu pernah memberi uang 500 rupiah kepada pengemis.” Ternyata dia tak mengingat kejadian itu. Lalu malaikat mengingatkan jam, hari tanggal kejadian itu. Tapi tetap saja dia tak ingat kejadian itu. “oohh….kalau begtu kamu yang salah dimasukan neraka”.

Lalu diangkatlah orang itu dan dibawa ke surga, karena dia sedekah tidak merasa, dan tidak sok suci.

Dari cerita itu, apa hikmahnya,,,,? Begini, bahwa sok suci itu adalah suatu bentuk kesombongan, dan al qur’;an mengatakan bahwa Alloh tidak suka kepada orang yang sombong. Itulah dosanya iblis, bukan manusia. Makanya iblis itu pantas di neraka. Ingat ketika iblis diperintah alloh untuk bersujudkepada Adam, iblis menolak. Itu merupakan bentuk kesombongan iblis, karena ia merasa hebat lebih mulia, lebih dulu dari pada Adam.

2 Tanggapan

  1. *manggut2…*
    nice n educative blog🙂

  2. pak kiai mursyid itu gimana sih, seharusnya tahu kalau ada yang berpuasa, malah disuruh minum. bukannya minta maaf malah mesam mesem, masak orang yang lagi puasa itu suruh bohong ke pak mursyid?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: